........sepenggal kisah tentang......bintang dilangit tergelap

.
"untuk semua orang yang tl'ah menjadi kekuatan dalam hidupku"
Bab 17
Bintang yang Terlupa
“Anak-anak...” Pak Andre bicara.
“Ada kabar gembira yang ingin kusampaikan pada kalian.” Suasana di kelas itu seketika hening seperti menunggu apa yang akan disampaikan Pak Andre pada mereka.
“Besok libur ya, Pak?” celetuk Diyas murid paling bandel di kelasku.
“Ada anak baru yang cakep!” susul yang lain.
“Bukan!” jawab Pak Andre tenang.
“Salah satu teman kalian telah mengharumkan nama kelas ini bahkan sekolah
ini,” ucap Pak Andre semangat. Dia bangkit dari
duduknya sebelum kembali bicara.
“Teman kita Syan telah memenangkan lomba poster SMU tingkat nasional. Kita harus berbangga dan memberi selamat padanya.” Namun kelas itu tetap hening. Semua murid di ruangan itu bengong, diam seperti tersihir oleh ucapan Pak Andre. Dan mungkin mereka tidak percaya dengan apa yang diucapkan Pak Andre dengan prestasi yang aku raih. Aku sendiri belum percaya dengan apa yang diucapkan Pak Andre. Aku mencoba tenang mengatur nafasku. Aku tidak boleh senang dulu dengan apa yang baru saja aku dengar. Siapa tahu itu hanya guyonan, meski yang mengatakan itu guruku sendiri. Karena aku tak lagi percaya pada semua orang, meski itu seorang guru. Dan aku terkadang tidak mengerti dengan semua. Terkadang seorang guru juga ikut memuntahkan sumpah serapahnya padaku. Sama saja dengan anak didiknya. Terkadang guyonan mereka keterlaluan. Entahlah, apakah aku yang terlalu sensitif atau mereka yang keterlaluan. Yang pasti, aku tak pernah rela jika orang mengatakan sesuatu tentang Ibuku, dan menanyakan siapa ayahku. Mereka tidak berhak melakukan itu, mereka tidak berhak menghakimiku.
“Syan, kenapa kau hanya diam. Tidakkah kau merasa bahagia dengan semua apa yang sudah kau raih?” ucap Pak Andre bingung.
“Aku belum percaya Pak, benarkah itu?”
“Ayolah Syan, kuantar ke ruang kepala sekolah. Pak Mansyur sudah menunggumu.” Aku mengikuti Pak Andre di belakang menuju ruang kepala sekolah. Dengan bergetar aku masuk ruang kepala sekolah.
“Duduklah, Syan!” ucap Pak Mansyur, kepala sekolahku. Aku hanya diam menunggu apa yang akan dikatakana kepala sekolahku. Mataku menatap laki-laki setengah baya di depanku itu. Laki-laki yang biasa tegang dan terlihat menakutkan di depan anak-anak di sekolah ini terlihat sumringah dan bersemangat menatapku.
“ Syan, kau baca surat ini! “ Pak Mansyur menyodorkan sepucuk surat padaku. Dengan bergetar kuterima surat itu dan aku mulai membacanya. Ada sesuatu yang bergolak dalam diriku. Rasa bahagia, yang menyusup dan mengalir dalam darahku ketika aku membaca namaku tercetak di surat itu sebagai juara pertama lomba poster disiplin nasional se SMU tingkat nasional. Ingin sekali aku meluapkan kegembiraanku, tapi kucoba untuk tenang. Kuatur nafasku dan mencoba untuk tetap bersikap biasa. Seperti saat aku menemukan penderiataan, aku mencoba menjalani dengan biasa, karena sesungguhnya kebahagiaan dan penderitaan itu satu diantaranya tidak ada yang istimewa. Yang istimewa adalah bagaimana kita
bisa menjalani semua itu dengan ikhlas.
“Kami sangat bangga padamu. Kami tidak mengira, kamu murid yang terlihat biasa, tidak menonjol, tetapi bisa memenangkan perlombaan ini....”
“Ah, mungkin itu kebetulan saja kok Pak. Dan lagi sesungguhnya aku tidak begitu bisa membuat poster....”
“Kamu jangan merendah, Syan. Ini adalah sebuah prestasi,” kepala sekolah itu kembali menatapku. Diam-diam aku pun senang bisa membuat kepala sekolahku senang.
“Pak....” ucapku.
“Sesungguhnya aku tak yakin kalau poster itu akan bisa menang.”
“Kenapa tidak yakin?”
“Sesungguhnya poster yang saya buat itu keluar dari tema.”
“Tema lomba poster itu kan disiplin nasional kan syan?” sahut kepala sekolahku
“Benar pak, dan aku membuat poster GN OTA, bukankah itu keluar dari tema?”
“ Yah, kita tidak tahu Syan, yang pasti kau sudah mengalahkan sekian ratus peserta yang mengikuti lomba poster itu.” Aku hanya diam. Kubiarkan kepala sekolahku terus menyanjungku. Aku jadi ingat beberapa bulan yang lalu ketika aku mengajukan permohonan dana ke bagian tata usaha, namun tidak di kabulkan. Sampai akhirnya aku memotong uang
SPPku dan nekad ikut lomba poster itu. Dan a-
ku memenangkannya. Perjuanganku tidak sia-sia. Tapi kenapa mereka yang bahagia? Bukankah mereka yang melarang aku untuk ikut lomba poster? Bukankah kata mereka aku hanya menghabiskan dana percuma? Bukankah kata mereka tak mungkin menang, tapi kenapa sekarang mereka yang senang? Aku hanya diam melihat kepala sekolahku menikmati kemenaganku.
“Syan, besok kita diundang pihak panitaia untuk datang di acara penerimaan penghargaan, dari harian Surya, juga dari pihak penyelengara .… Jadi siapkan dirimu.”
“Eeeh,... iya, Pak.”
“Syan satu lagi. Ini bukan acara main-main. Besok aku ingin melihatmu rapi. Jadi kau potong rambutmu dan kau pakai baju yang bagus, karena ada seseorang yang ingin bertemu denganmu”.
“Seseorang siapa, Pak?” Kepala sekolah itu menatapku sebelum kembali bicara.
“Syan, kau sangat beruntung. Bapak harap kau ambil kesempatan ini.…”
“Kesempatan…, kesempatan apa Pak?” Aku semakin tidak mengerti.
“Ada seseorang yang akan mengangkatmu, orang ini bukan orang sembarangan. dia mantan pejabat.
“Kenapa dia mau mengangkatku, kenapa
bukan orang lain?”
“Dia melihat karyamu, Syan. Beliau pikir apa yang kau buat itu sama seperti apa yang kau alami!”
“Maksudnya?”
“Eeh, maksudnya, eh... dia tertarik dengan karyamu... eh kepandaianmu dalam membuat poster dan beliau ingin talenta yang kau miliki berkembang dan kamu tetap melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Jadi itulah tujuan beliau mengangkatmu.” Aku masih diam, bingung dengan apa yang kepala sekolahku katakana. Bagaimana mungkin ada seseoranng yang ingin mengangkatku tapi dia tidak mengenalku?
“Mungkin kamu masih bingung, Syan. Sesungguhnya aku banyak cerita tentangmu padanya. Syan, ini kesempatan besar. Ini untuk masa depanmu….”
“Pak, tentu semuanya tidak bisa diputuskan secepat ini. Semuanya juga harus atas persetujuan Ibu.”
“Itu benar, Syan? Tapi Bapak harap kau mau menerima tawaran ini.” Seketika hidupku berubah. Orang-orang yang sebelumnya ingin muntah melihatku, juga orang-orang yang suka mengatakanku anak haram jadi tersenyum ramah padaku. Diam-diam aku merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan yang hanya aku simpan dalam hati, karena tak ada seseorang, kepada siapa aku bisa meluapkan kegembiraan-
ku. Bahkan pada Ibuku pun tidak. Sekarang yang harus aku lakukan adalah mencari waktu yang baik untuk bisa membicarakan tawaran kepala sekolah itu dengan Ibu. Ada harapan yang tiba-tiba menyusup di hatiku. Harapan untuk bisa masuk sekolah tinggi. Harapan untuk mewujudkan semua cita-citaku. Harapan untuk merubah hidupku. Aku tidak ingin satu saat aku seperti ayahku, yang tidak jelas berada dimana. Atau seperti Ibu. Aku harus bisa lebih baik agar aku tidak dilecehkan di masyarakat. Tekadku, akhirnya hari itu datang juga. Aku sudah duduk di samping kepala sekolahku, dan menunggu namaku dipanggil untuk menerima hadiah dan piala penghargaan atas kemenanganku. Satu persatu nama pemenang dipanggil, dari juara harapan satu sampai akhirnya aku maju ke depan menerima penghargaan. Kilatan cahaya lampu-lampu blitz menghujaniku. Dengan senyum mengembang kugenggam piala itu erat. Dan aku
mulai mengucapkan terimakasih kepada orang-orang tercinta yang telah mendukungku. Sesungguhnya tak satu pun orang yang mendukungku, tapi biarlah untuk sekedar formalitas kuucapkan terimakasihku pertama pada Ibuku, pada ayahku yang tidak pernah aku ketahui, kepada sekolah tempatku belajar dan kepada teman-teman yang sesungguhnya hanya mengejekku bukan mendukungku. Kutatap kepala sekolahku, matanya tampak berbinar senang memandangku di antara pemenang yang lain. Tak pernah kurasakan hatiku seringan ini. Aku seperti melayang di atas awan. Tak pernah kurasakan aku dihargai sedemikian rupa. Seandainya ada ayahku di sini, betapa ia akan bangga melihatku berdiri di sini. Pasti dia akan bilang kau memang pinter seperti aku. Tapi di mana ayahku? Kenapa aku tak bisa membagi kebahagianku pada mereka? Ibuku juga tidak datang, sibuk dengan urusannya sendiri. Ooh, Tuhan, semestinya mereka di sini mendampingiku seperti teman-teman yang lain. Seorang wartawan dari pihak sponsor mulai menanyakan poster yang kubuat. Kenapa melenceng dari tema? Terus kenapa membuat poster GN-OTA? Idenya dari mana? Kujawab dengan jujur semua pertanyaan wartawan. Dan tak lama kepala sekolahku yang katanya akan mempertemukan Aku dengan seseorang itu tidak jadi. Dia memberikan sebuah surat padaku dan katanya surat itu dari seseorang yang akan mengangkatku menjadi anakkya. Dan aku diminta untuk datang ke tempatnya.
“Syan, kau harus datang, ini kesempatanmu. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan ini!” katanya.
“Dia siapa Pak?” tanyaku tak mengerti.
“Beliau mantan Walikota sekaligus mantan Wagub, Syan. Kau tidak boleh mengecewakannya”.
“Terimakasih, Pak. Aku tak pernah mengira semua ini akan terjadi. Aku tak pernah mengira aku akan bisa melanjutkan sekolah lagi.”
“Sudahlah Syan, kau memang pantas mendapatkannya.”
“Jadi Pak, nanti aku harus pindah dari sekolah kita …?”
“Tidak apa-apa Syan, demi masa depanmu.” kata kepala sekolah itu arif. Aku terdiam terharu dengan apa yang diucapkannya. Kemudian kami segera kembali ke sekolah disambut seluruh siswa sekolah, bukan hanya dari kelasku. Aku seperti bintang baru yang mendapat sambutan meriah. Semua omongan miring tentangku, tentang Ibuku seketika sirna terhapus oleh kemenanganku. Tanpa ragu kulemparkan senyumku pada semua orang di sekolah itu dan mereka menyambutnya. Tuhan, inikah keajaiban? Semua orang membicarakanku, semua orang menyanjungku.
Pahit cacimaki berubah menjadi manis senyum puji. Oh, Tuhan, mimpikah ini? Tapi aku tidak boleh terlalu terhanyut. Aku harus memikirkan bagaimana aku ke depannya.
Kuseka air mataku yang entah kenapa mengalir. ‘Kau tidak boleh cengeng, Syan’, ucap hatiku. ‘Teruslah melangkah. Orangtuamu takkan pernah peduli padamu’, bisik hatiku yang lain. Memang benar, sulit dipercaya, tapi aku merasa demikian. Bahkan saat aku pergi pun, tak kulihat kesedihan dimata Ibuku.
Bab 18
Air Mata Harapan
Aku segera pulang dan mengabarkan apa yang kualami pada Ibuku, namun ibuku biasa saja. Tak ada luapan emosi kegembiraan darinya. Mungkin kegembiraannya telah hilang ditelan oleh semua kepahitan hidupnya. Atau mungkin aku memang tak pernah diharapkan. Aku tidak mengerti, tapi tetap kuceritakan semua pada Ibuku termasuk tentang seseorang yang akan mengangkatku sebagai anak angkat. Ibu hanya diam dan aku tahu dia setuju dengan apa yang aku lakukan. Dan setidaknya aku tak akan merasa kesal lagi kalau melihat ibu bersama tamunya.
Mungkin nanti setelah aku pergi, Ibu akan bisa sadari bahwa apa yang dilakukannya sesungguhnya salah. Aku berharap demikian dan memang aku hanya bisa berharap. Aku akan selalu berdoa untuknya. Mudah-mudahan Tuhan masih mau memberikan jalan untuk Ibu. Satu kata yang diucapkannya padaku, entah itu tulus atau tidak aku sendiri tidak tahu.
“ Hati-hati di jalan, Syan .…”
Entahlah aku merasa tidak pernah diharapkan Ibuku. Mungkin kepergianku memberikan kebebasan untuknya. Entahlah, aku takut, bahkan takut sekali. Takut akan terjadi apa-apa dengan Ibuku. Meski aku tahu Ibu seperti tidak menyayangiku, tapi aku mencintainya. Bagaimanapun ia adalah Ibuku. ‘Tuhan jaga Ibuku,’ bisikku dalam hati. Kubulatkan tekadku untuk tidak menengok lagi ke belakang.
‘Ini demi masa depanmu, Syan’, ucapan kepala sekolah itu merasuk kedalam hatiku. Dan kulangkahkan kakiku dengan pasti. Kuseka air mataku yang entah kenapa mengalir. ‘Kau tidak boleh cengeng, Syan’, ucap hatiku. ‘Teruslah melangkah. Orangtuamu takkan pernah peduli padamu’, bisik hatiku yang lain. Memang benar, sulit dipercaya, tapi aku merasa demikian. Bahkan saat aku pergi pun, tak kulihat kesedihan dimata Ibuku. Apakah dia terlalu tegar atau memang perasaannya sudah hilang, aku tidak tahu.
Oh Tuhan, betapa saat ini aku sangat merindukan kelembutan hati. Kedamaian yang entah pada siapa akan kucari. Dan aku sendiri sesungguhnya tak tahu apakah aku akan dapatkan ketenangan bathin dengan menjadi anak angkat orang. Akankah di sana ada kedamaian, atau justru sebaliknya. Apa pun yang terjadi aku harus melangkah. Ya, aku harus langkahkan kakiku. Banyak kemungkinan menanti di sana. Paling tidak aku tidak akan membebani Ibuku lagi.
Dibutuhkan lima jam dengan kendaraan umum untuk sampai ke rumah orang tua angkatku. Dan selepas maghrib, aku baru sampai di depan sebuah pagar tinggi sebuah rumah besar. Kupencet bel. Dan seseorang membukakan pintu. Aku memberikan surat yang dikirimkannya padaku dan tak berapa lama aku diminta untuk masuk.
Rumah itu mempunyai halaman yang luas dan taman yang sepertinya terawat dengan baik. Dan saat melewati garasi, ada dua buah mobil yang masih tertutup dengan kain. Aku terus ke dalam dan orang itu mempertemukanku dengan seorang laki-laki. Laki-laki itu terlihat tinggi dan kurus, matanya cekung, dan tatapannya aneh. Aku tak bisa membaca raut wajahnya. Kira–kira usia laki-laki itu sudah lima puluhan.
“Nama kamu, Syan? “ katanya.
“Iya , eeh... Pak.…”
“Jawab yang tegas,” katanya.
“Kau harus lihat mata orang yang kau ajak bicara” , imbuhnya.
“Iya... Pak,” jawabku.
“Kamu Syan?” ulangnya.
“Iya,” jawabku singkat. Aku seperti merasakan sesuatu yang aneh dalam jiwa laki-laki itu. Seperti ada sesuatu yang lain, entah itu apa.
“ Antarkan dia ke kamarnya, baru besok pagi aku akan bicara dengannya.” ucapnya pada pembantunya. Dan pembantu perempuan itu pun mengantarkanku ke atas, ke sebuah kamar yang cukup luas. Kamar ini sangat rapi. Sepertinya ada seseorang sebelum aku yang menempati kamar ini. Aku segera mandi sebelum kuhempaskan tubuh lelahku di ranjang tempat tidur baruku. Aku belum juga bisa memejamkan mataku. Hatiku campur aduk tak karuan. Betapa aku tak pernah menyangka kalau aku akan pindah ke kamar ini. Betapa aku tidak menduga kalau aku akan meninggalkan Ibuku. Entah senang atau sedih aku tidak tahu. Yang pasti aku selalalu dan selalu berharap keadaanku bisa lebih baik, paling tidak jiwaku tidak akan terganggu dengan menyaksikan Ibuku dengan laki-laki.
Tapi bagaimana dengan Ibu? Siapa yang akan menyadarkannya? Apakah akan selamanya dia begitu? Dan Tuhan, dimana sesungguhnya ayahku. Kenapa kau berikan cobaan ini begitu berat? Tanpa terasa air mataku tumpah, jika mengingat ketidakjelasan hidupku. Kupasrahkan saja semuanya pada Tuhan. Memang, mungkin aku harus melewatinya. Tapi kenapa harus aku? Kenapa hidupku tak pernah sempurna? Ada Ibu yang lembut mengasihi. Dan seorang ayah yang bisa aku banggakan. Kenapa aku tidak memiliki apa yang mereka miliki? Benarkah Tuhan itu adil?
Aku masih terisak oleh tangisku. Biarin aja aku menangis, toh tidak ada orang yang tahu. Kubenamkan wajahku pada bantal. Dan kupuaskan hatiku untuk menangis, menangis dan menangis. sampai aku benar-benar lelah dan diam. Kutatap langit-langit kamar. Meski tempat ini masih asing, tapi bagaimanapun juga tempat ini lebih baik dari pada kamarku. Di sini aku tidak akan mendengar suara-suara aneh yang menggangguku. Syan, di sini kau aman.
Lihatlah tembok yang kokoh itu, dan pintu yang besar itu. Mereka akan melindungimu. Di sini kau tidak akan melihat Ibumu dengan laki-laki. Di sini tidak akan ada anak-anak yang mengejekmu bahwa kau anak haram. Tidak ada. Ini adalah kamarmu. Kau bebas di sini. Kau bebas dari semua yang mengganggumu. Coba kau buka lemari, kau bisa membaca buku sepuasnya. Dan coba kau buka kulkas, kau bisa makan buah sepuasnya. Dan kapan pun kau ingin mandi, kau bisa mandi. Kau aman di sini. Suara dalam diriku menghiburku, dan aku mulai lelah dan tertidur lelap.
Keesokannya, pagi-pagi aku sudah bangun dan mandi bersih. Dan tak lama kemudian ada ketukan di pintu kamarku.
“Dik, dipanggil bapak di bawah,” kata seorang laki-laki yang aku tidak tahu siapa dia. Mungkin dia pembantu Pak Susastio, sopir atau siapa aku tidak tahu. Aku ikuti saja laki-laki itu turun ke bawah. Kami berhenti di meja makan sebelum laki-laki itu meninggalkanku. Dan Pak Susastio, bapak angkatku, mempersilakakanku duduk. Aku yang mengira akan diinterogasi, ditanya macam-macam, ternyata keliru. Keluarga besar itu mengajakku makan bersama.
Di samping Pak Susastio, istrinya, tampak duduk tenang. Tampak wajah perempuan lima puluh tahunan itu sudah lelah oleh masker, make–up, agar terlihat lebih muda. Tapi bagaimanapun juga, garis-garis di sudut matanya tidak dapat menyembunyikan usianya. Di samping istri Pak Susastio, Mbak Larasati, menantu Pak Susastio, perempuan berambut pendek dengan make–up tipis ini tampak anggun. Dari wajahnya dapat kulihat kantung matanya, sepertinya sepanjang hidupnya dihabiskan untuk menangis. Namun perempuan ini terlihat lebih dewasa dari mertuanya. Dari tindak–tanduknya, perempuan asli Solo ini lebih santun. Di samping Mbak Larasati, Mas Bima, suaminya. Mas Bima, laki-laki subur ini tampak terlihat tegar dan tenang. Dan di samping Mas Bima, ada aku, satu-satunya orang asing yang masuk ke dalam kehidupan keluarga mereka.
Entah, kadang-kadang aku tidak mengerti kenapa aku sekarang duduk di antara mereka. Selesai makan kucoba untuk ikut membantu membereskan meja. Tapi mereka melarangku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku hanya duduk diam menunggu apa yang akan mereka lakukan padaku.
……Mungkin hanya karena aku anak angkat mantan orang yang berkuasa di kota itu. Haha... coba kalau aku datang sebagai gembel. Tentu tak akan ada orang yang menengokku. Seolah-olah hidup hanya ternilai sebatas rupiah.
Bab 19
Schizophrenia
Pagi itu di teras, dengan pemandangan taman yang luas. Hari menjelang siang hawa terasa panas. Pak Susastio teronggok di salah satu kursi di teras itu. Sosoknya, yang dulu mungkin kekar itu, kini tersandar. Wajahnya tak menunjukkan perasaan. Matanya menatap kosong ke arah taman. Ia hampir tak bergerak. Keheningan berlangsung hampir seperempat jam. Sementara aku duduk di sampingnya seperti anjing yang setia pada tuannya. Aku sendiri hanya diam tak tahu apa yang harus aku lakukan. Pak Susastio menoleh padaku, lalu menatapku tak berkedip. Dengan sorot mata dingin tanpa emosi, aku jadi jengah ditatap sedemikian rupa.
Kutundukkan wajahku untuk menghindari masalah. Tiba-tiba ia bicara.
“Kamu sudah makan?”
“Sudah, Pak,” jawabku dengan sedikit mendongakkan wajahku.
“Makannya pakai apa?” Oh, Tuhan bukankah aku tadi makan semeja dengan dia? Apakah dia lupa?
“Hey, kalau diajak ngomong tuh lihat ke sini”, bentaknya sambil menunjuk sendiri kedua matanya.
“Lihat mata saya”. Aku tak berani menatapnya. Brak!!! Meja itu di gebrak.
“Hey, lihat mata saya,” kucoba beranikan diri menatap matanya dan mengangkat mukaku.
“Nah begitu. Coba bicara.”
“Bicara apa, Pak?” aku tak mengerti.
“Arrrggh, bicara!!!”. Kulihat wajah laki-laki di depanku itu merah padam seperti ada dendam yang ingin dimuntahkannya padaku.
“Bicara ... bicara yang keras, jangan lemah, tegas”.
“I...ya, Pak.” Ucapku terbata.
“ Yang tegas. Iya Pak, begitu.…”
“I...ya...Pak.”
“Kamu belum makan ya, makan ini, habiskan”. Pak Susastio menyodorkan sepiring kue yang ada di meja itu.
“Makan!” ulangnya.
“Habiskan!” Aku hanya diam dan mena-
tapnya aneh.
“Habiskan!” ulangnya. Tangannya menggebrak meja. Dan seperti anjing budukan aku melahap kue yang ada di meja itu tanpa tersisa. Hari-hari kulalui seperti anjing yang selalu menurut apa yang dikatakan Tuannya. Hari-hari kulalui berada di dekat Pak Susastio. Kecuali dia sedang ada urusan, dan malam hari saat aku lelap di peraduan. Saat itulah aku merasa bebas dari semua tekanannya.
Akhirnya tanpa kesulitan yang berarti aku sudah pindah di sekolah yang jauh lebih bonafid dari sekolahku sebelumnya. Entah bagaimana juga aku bisa masuk sekolah ini. Tapi yang menyenangkan hatiku hampir semua teman-teman menyambutku. Mereka menerimaku seutuhnya tidak seperti di sekolahku yang dulu. Tak ada orang yang mengejekku anak haram. Justru sebaliknya, mereka sangat menghargai aku. Mungkin hanya karena aku anak angkat mantan orang yang berkuasa di kota itu. Haha... coba kalau aku datang sebagai gembel. Tentu tak akan ada orang yang menengokku. Seolah-olah hidup hanya ternilai sebatas rupiah.
Padahal di rumah itu pun aku sendiri tidak ada harganya. Aku sudah seperti anjing yang setiap kali harus menjilati kaki Tuannya. Meski kelihatannya saat berangkat dan pulang sekolah aku dijemput sopir. Tapi di rumah aku hanya boneka tempat untuk pelampiasan amarah. Aku nyaris tak percaya bahwa hati nurani itu ada. Bahwa kasih sayang sejati itu ada. Sepanjang hidupku aku mencarinya. Tapi kenyataan yang kudapatkan sebaliknya. Amarah dan ego mengikis naluri.
Rasanya aku ingin kembali pulang tapi kalau aku pulang, Ibu tidak akan mungkin meneruskan membiayai sekolahku, dan jalan satu-satunya aku harus bertahan. Bertahan, apa pun yang terjadi dengan hidupku. Toh hidupku memang sudah tidak menentu. Yang harus aku pikirkan sekarang adalah bagaimana sekolahku. Aku harus tetap sekolah. Aku tidak ingin seperti Ibuku atau seperti ayahku. Aku tidak ingin seperti mereka. Aku benci mereka, yang tak pernah peduli padaku. Biarlah aku jadi anjing yang terus dicambuk dan menjilati kaki tuannya. Biarlah orangtuaku bahagia dengan cara mereka sendiri. Biarlah….
Minggu pagi tak ada yang bisa aku kerjakan. Kucoba untuk mengisi waktuku dengan mencuci mobil. Sopir Pak Susastio yang bernama Pak Rumbayan itu tampak senang mobilnya kucuci. Aku pun senang melakukannya. Lumayan buat sejenak melupakan semua masalah yang aku hadapi. Belum selesai aku mengerjakannya kurasakan ada seseorang yang sudah berdiri di belakangku.
“Syan, ikut bapak!”
“Sebentar, saya ganti pakaian, pak! “ ucapku.
“Masuk ke mobil!” bentaknya. Aku tak
mengerti dengan bapak angkatku. Sedikit pun aku tidak diberi waktu untuk ganti pakaian. Padahal hanya kaos singlet dan celana kolor yang membalut tubuhku, itu pun basah. Bahkan aku pun tidak memakai alas kaki. Kuikuti saja apa yang ia mau. Aku segera masuk ke mobil, duduk di belakang. Namun…
“Bapak yang disuruh nyetir buat kamu? Duduk di depan!” Bentaknya.
Dan mobil, dengan satu letter angka itu sudah melaju di lalulintas kota. Di mobil, aku duduk diam di sampingnya, seperti anak kucing yang tersiram air. Aku diam tak berani bergerak.
“Itu apa?” Tiba-tiba tangan Pak Susastio menunjuk ke satu arah.
“Elizabet pak, Rumah Sakit Elizabeth”.
“Bagus,” katanya. Kembali tangannya menunjuk sesuatu.
“Itu apa?” aku ragu untuk menjawabnya. Tangan Bapak angkatku menunjuk pada tukang baso yang sedang mangkal.
“Baso, Pak. Tukang baso”.
“Huuuhh... goblok!!!” dia meremas tanganku geram.
“Yang ada di pikiran kamu itu cuma makanan. Itu jalan apa maksudnya.” bentaknya.
“Jaksa Agung Suprapto, Pak”.
“Bagus, kau harus hafal jalan di kota ini”.
“Iya, Pak”. Aku baru mengerti apa maksud
Bapak angkatku. Mobil itu berhenti di pusat perbelanjaan.
“Ayo”, katanya. Tapi aku masih ragu untuk turun.
“Kenapa diam saja? Ayo turun.” Tanpa ragu-ragu segera aku turun, mengikutinya berjalan masuk ke dalam mal, tanpa pakaian yang layak dan alas kaki. Kubunuh rasa maluku dari orang-orang yang melihatku aneh. Aku terus mengikutinya di belakang seperti anjing yang mengikuti Tuannya sampai kami berhenti di sebuah restaurant burger. Dia memesan tiga buah burger dan tiga buah soft drink, dua untukku dan satu untuknya.
“Habiskan, kau harus makan yang banyak,” katanya. Tanpa ragu-ragu kumasukkan potongan burger itu ke mulutku tapi rasa bawang bombay yang menyengat membuatku ingin memuntahkannya. Melihat gelagatku Pak Sugiono kembali membentakku.
“Habiskan! Biar gemuk!!” kupaksa mulutku untuk menerima makanan yang tidak biasa kumakan. Aku memikirkan, makanan itu adalah makanan kesukaanku agar aku bisa menelannya. Dua buah burger dan dua cup soft drink ukuran besar sudah masuk ke dalam mulutku. Rasanya aku ingin muntah. Perutku mulai mual. Namun segera kupikirkan sesuatu yang menyenangkanku agar aku tidak muntah. Tampak orang-orang di restoran itu memperha-
tikanku, memperhatikan pakainaku yang hanya singlet dan celana pendek dan mungkin memperhatikan apa yang dilakukan Bapak angkatku padaku. Selesai makan kembali aku mengikuti dia jalan. Dan kami menuju sebuah counter baju. Dia membelikan satu kaos dan satu celana jean untukku sebelum akhirnya kami pulang. Mobil BMW itu melaju tenang menyusuri jalanan kota yang terik, sebelum akhirnya berhenti di lampu merah. Saat lampu sudah hijau, mobil kami siap jalan, namun sebuah mobil corolla merah menghalangi. Dengan sumpah serapahnya Bapak asuhku membunyikan klakson berulang kali hingga membuat suasana tidak nyaman. Melihat letter di mobil yang kami tumpangi semua mobil itu mengalah dan membiarkan kami lewat. Sampai di rumah cepat-cepat aku naik ke kamarku untuk melepas semua ketegangan selama aku berada di dekat Bapak angkatku. Namun baru saja aku ingin menghempaskan tubuh lelahku di peraduan, sebuah panggilan membuatku harus segera turun. Suara yang sudah mulai akrab aku dengar. Ya... siapa lagi kalau bukan Bapak angkatku.
“Syaaan…turun. Jadi burung kamu nanti di atas terus.” Aku segera berlari menuruni tangga namun satu kakiku tersangkut oleh sesuatu. Dan tak ayal lagi tubuhku terjungkal dari tangga. Sesaat pandanganku memudar untuk
kemudian kembali jelas. Sayup-sayup kudengar kembali Bapak angkatku memanggilku. Membuatku harus cepat bangkit dan kembali berlari. Sampai di depannya aku tidak menyadari ada darah yang mengalir dari lenganku.
“Kenapa lenganmu?” katanya.
“Jatuh Pak di tangga.”
“Kenapa bisa jatuh.”
“ Tadi lari, Pak.”
“Kenapa harus lari-larian…bodoh kamu.”
“Kan tadi Bapak teriak-teriak memanggil Syan”.
“Lain kali hati-hati. Minta mbok Ti mengobati lenganmu setelah itu ke sini“.
“Baik Pak”. Aku segera menemui mbok Ti pembantu rumah itu. Setelah diperban dan diberi obat merah, aku segera kembali di depan TV di dekat bapak angkatku. Biasanya aku bisa pergi kalau dia sudah tidur. Aku hanya diam dan menajawab sekali dua kali pertanyaannya. Sementara aku tetap diam dan tak bersuara kalau tidak ditanya. Hal ini membuatku seperti orang bodoh. Sementara waktu terus bergulir dan jam dinding sudah menunjukkan pukul 21.00. Sementara aku belum melakukan apa-apa untuk diriku sendiri. Jangankan mengerjakan PR, bahkan mandi pun aku belum sempat. Suara TV yang menyiarkan siaran berita dengan volume besar, tidak membuatnya terganggu. Kulirik Bapak angkatku yang rebahan di sofa matanya tampak menutup dan tubuhnya sudah tak bergerak. Hanya terlihat nafasnya yang teratur. Perlahan-lahan aku beringsut mundur. Dan segera beranjak kekamarku. Dan di saat Bapak angkatku belum bangun aku sudah berangkat sekolah. Aku lebih baik berangkat jalan kaki dari pada diantar yang hanya membuat sopir Pak Susastio merasa tidak suka hanya mengantar anak ingusan sepertiku.
Sejak saat itu aku berpikir lebih baik berangkat sekolah jalan kaki dari pada diantar pakai mobil yang hanya membuat aku merasa tidak enak. Di sekolah aku mendapatkan teman-teman yang baru yang jauh lebih baik dari teman-temanku sebelumnya. Di sini tak ada yang mengejekku anak haram, tidak ada yang menggangguku dengan menyembunyikan tasku atau mengambil buku PRku. Kadang aku merasa menang bisa lari dari semua yang menggangguku. Namun di sisi lain aku juga harus bisa menghadapi Bapak angkatku. Aku sendiri tidak tahu bagaimana bapak angkatku yang seorang mantan walikota itu bisa bersikap kasar dan aneh padaku. Aku benar-benar tidak mengerti.
Seperti biasa aku menemani bapak angkatku di teras. Dan seperti biasa aku hanya diam dan hanya bicara kalau ditanya. Tampak mata yang sepertinya sudah lelah itu menikmati suasana taman sore itu, sebelum seseorang datang dan membawa bapak angkatku ke dalam rumah. Orang itu adalah Pak Arian, dokter pribadi bapak angkatku. Aku masih di teras ketika Pak Arian sudah selesai dan muncul dari pintu kemudian duduk di bangku sebelahku.
“Nama kamu Syan, ya.” Sapanya. Dijabatnya tanganku.
“Aku Arian. Aku banyak mendengar cerita tentang kamu dari Bapak”.
“Apa dia cerita tentangku?”
“ Ya Syan. Sesungguhnya Bapak tidak ingin memperlakukanmu seperti itu. Beliau cerita takut kamu tidak tahan di sini”.
“Kenapa beliau memperlakukan aku seperti itu?” tanyaku tak mengerti.
“Syan, kau harus tahu Bapak menderita schizophrenia, semacam ketakutan tidak beralasan. Penderitaannyalah yang membuat ia bersikap kasar. Coba kau renungkan pernahkan dia tiba-tiba menjadi lembut dan seperti menyesali perbuatannya?”
“Iya”, jawabku singkat.
“Itulah sesungguhnya sifat beliau. Dia itu sesungguhnya orangnya arif dan baik tapi kehidupan telah merubah segalanya.” Tanpa sadar Pak Arian, dokter pribadi Bapak angkatku itu, cerita panjang lebar bagaimana dulu ketika Pak Susastio masih menjadi wali kota dan wakil gubernur. Dan cerita perjuangan Pak Susastio sebelum menempati posisi itu. Bahkan sampai cerita tentang sebelah kakinya yang terluka. Dan dari semua yang diceritakan aku jadi mengerti kenapa Pak Susastio jadi seperti itu.
“Syan.” katanya.
“Yang sabar saja sama Bapak, percayalah kalau kau tahan, satu saat tidak menutup kemungkinan kau bisa jadi orang. Maksudnya disini kau bisa sekolah setinggi yang kau mau.”
“Tapi Pak…”
“Aku mengerti Syan. Aku mengerti apa yang kau pikirkan. Kau seperti tak sanggup untuk menghadapi semua kan? Saya yakin dengan berjalanya waktu kalian akan saling bisa memahami. “
“Aku tidak yakin, Pak”.
“Baiklah aku tidak memaksa kau untuk bertahan tapi kau pikirkan juga masa depanmu. Ok, Syan, masih banyak yang harus aku kerjakan. Sampai ketemu, ya!”
“Terimakasih untuk nasehatnya, Pak”.
“Sama-sama Syan.” Setelah kepergian Pak Arian aku segera masuk ke dalam. Kulihat Bapak angkatku tertidur pulas di Sofa dengan mulut menganga.
“ Syan”, Suara lembut mba Hana di belakangku mengagetkanku.
“Mumpung Bapak tidur, sudah kamu istirahat sana.”
“Iya, mba terimakasih.”
“Syan, kamu sudah makan belum?”
“Sudah kok mba, tadi bareng Bapak”.
“ Ya sudah kamu naik ke kamar, istirahat.” Tanpa membuang waktu lagi aku segera meninggalkan mba Larasati, membuka pintu kamarku dan menghempaskan tubuh lelahku di tempat tidur. Rasanya tidak bisa dipercaya, bagaimana mungkin mantan pejabat yang terlihat arif di media–media ternyata memiliki sisi lain yang bertolak belakang dengan kehidupannya di masyarakat. Dan kenapa harus aku yang jadi korban pelampiasan amarahnya. Kenapa aku? Apa salahku? Ya, salahku karena aku aku berada di sini. Kalau aku tidak ada di sini tentu hal ini juga tidak akan terjadi. Ini juga karena salahku. Baiklah tidak apa-apa, aku akan mencoba bertahan demi sekolahku. Apa pun yang terjadi aku harus sekolah. Aku harus bisa, aku harus bertahan. Aku harus bertahan, tekadku. Kucoba memejamkan mataku untuk melepas lelah, untuk mengumpulkan energi yang mungkin akan terkuras menemani Bapak asuhku nonton TV. Memang ini tidak menguras tenaga tapi cukup menguras perasaan. Dan aku harus membunuh perasaan, bahkan harga diriku saat aku berada di sampingnya. Hanya dengan begini aku bisa melewatinya. Dan aku memang harus bisa melewatinya. Ini lebih baik dari pada aku melihat Ibu dengan laki-laki di rumah. Lebih baik aku berada di sini. Paling tidak aku cukup makan dan tetap bisa sekolah meskipun aku harus membunuh rasaku, meskipun aku harus membunuh harga diriku. Apalah artinya harga diri. Tak apalah aku seperti anjing yang harus menurut berada di sampingnya. Tak apa jika aku harus menjilat kakinya. Tidak apa. Dan tidak apa jika aku harus dipaksa makan makanan yang tidak biasa. Aku bisa memuntahkan kembali di toilet. Yang penting aku tidak melihat Ibuku dengan laki-laki. Aku benci Ibu. Aku benci…aku benci ayahku. Jika mereka bersatu, mungkin aku tidak harus berada di sini. Tapi kurasa mereka tidak punya kasih sayang . Mereka tidak punya cinta. Yang ada di hati mereka hanya nafsu... ya mungkin aku dilahirkan hanya dari nafsu mereka. Mungkin memang di dunia ini tidak ada kasih saying. Mungkin di dunia ini memang tidak ada cinta. Cerita tentang beningnya hati, naluri kasih sayang dan ketulusan cinta, itu mungkin hanya ada di novel-novel, sinetron dan film-film. Mungkin di alam nyata hal itu tidak akan terjadi. Mungkin semua orang sudah terlalu sibuk memikirkan ego mereka sendiri hingga tak ada lagi naluri. Tak ada lagi ketulusan dan aku berada di sini hanya untuk pelampiasan amarah, tak lebih. Kalau tidak, bagaimana mungkin ia mau menyekolahkan aku. Siapa yang mau rugi. Semua memang ada harganya. Dan sekarang aku harus membayar mahal hanya untuk sekolahku. Aku harus menghadapi seseorang yang mungkin bisa saja membunuhku jika ia lepas kontrol. Itu bisa saja terjadi. Kini aku mengerti apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi semuanya. Ya... aku harus menghadapinya, apa pun itu. Aku lelah dan terlelap entah sudah berapa lama sebelum kembali kudengar panggilan Bapak angkatku. Aku segera berlari turun ke bawah cepat-cepat. Aku harus cepat berada di depannya. Kalau tidak dia akan segera membanting sesuatu.
“Syan…Syan..” masih kudengar suara khasnya dan aku mempercepat lariku.
“Kemana saja, dipanggil tidak segera datang?” tanyanya ketika aku sudah berada di depannya. Aku tidak boleh gugup. Aku harus membunuh rasa gentarku. Kalau aku gugup, ini
akan menjadi masalah lagi buatku.
“Kan, masih turun Pak. Kamar Syan kan di atas”, jawabku mencoba untuk tenang.
“Di atas terus, jadi burung nanti kamu.” Rasanya aku ingin tertawa mendengar apa yang diucapkanya…haha... dalam keadaan begini pun aku masih bisa tertawa. Kau memang hebat Syan. Aku menyemangati diriku sendiri.
“Kenapa cengar-cengir?” bentaknya, dan aku sudah tidak takut lagi mendengar bentakannya.
“Ah, enggak kok Pak“, Pak Susastio mengambil sesuatu di meja, sepiring buah yang sudah dikupas.
“Ini apa?” tanyanya.
“Buah, Pak.”
“Habiskan.” Tangan rapuh itu menyodorkan sepiring buah itu ke depan mukaku. Dan aku kembali seperti binatang yang harus melahap cepat makanan yang diberikan tuannya. Jangan-jangan makhluk tua ini sudah menganggapku binatang.. .haha... mungkin menjadi binatang lebih baik. Aku tak perlu merasa iri. Aku tak perlu merasa sakit hati, dan aku tidak akan punya masalah. Mungkin genap setahun saja aku berada di rumah ini. Sisi manusiaku akan terkikis hilang. Mungkin aku akan jadi anjing yang berwujud manusia, yang setiap hari berada di dekat tuannya. Dipaksa makan, menerima bentakan. Dan diberi uang.
Tapi apakah binatang butuh uang…?... haha... aku tertawa sendiri.
“Syan“, pekik Ibu Lenny, istri Pak Susastio, seraya menarikku ke belakang. Sementara Pak Susastio hanya melihatku melotot. Aku diseretnya ke dapur dengan mulut yang masih penuh dengan buah.
“Syan ,” ucap Bu Lenny lagi.
“Tadi kulihat kau tertawa sendiri, jangan sampai kau menjadi gila seperti Bapak. Kau harus kuat. Kau harus tahan. Kau mengerti?“, aku hanya diam dan menatap perempuan, istri mantan pejabat itu. Kalau kau jadi aku, kau tidak akan tahan”, bathinku.
“Ini, pegang. “Bu Lenny mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Beberapa lembar ra-
tusan ribu.
“Gunakan untuk kesenaganmu, kau tidak boleh stress”, ucapnya. Sebelum kumasukkan uang itu ke dalam sakuku kudengar lagi teriakan bapak angkatku.
“Syaaaan..” Aku segera berlari, tidak mempedulikan Bu Lenny yang masih terpaku melihatku.
“Iya, Pak”, kataku setelah aku berada di depannya.
“Kamu, Syan kan?”
“Ya Pak.”
“Kenapa kamu kesini? Mana Sum? Panggil sini. Kamu Syan bukan Sum.” katanya. Sum ada-
lah pembantu di rumah ini. Lega rasanya, aku segera memanggil mbok Sum dan dialah sekarang yang menggantikan semua penderitaanku.
Sekarang aku tahu bagaimana agar aku tidak terlalu banyak kontak dengan Bapak angkatku. Aku ikut kegiatan ekskul. Aku ikut band dan juga PA yang kelihatan berani dan gagah. Tapi sesungguhnya waktu latihan aku banyak cengengesan dan banyak bikin ulah. Entahlah, akhir-akhir ini kurasa aku pun mulai gila. Aku mulai mencari-cari perhatian. Aku mulai senang ketika banyak mata mulai tertuju padaku. Ada sensasi tersendiri ketika semua orang memperhatikan aku. Sebelumnya aku tidak begitu mungkin. Ini karena imbas dari kekerasan psikis yang dilakukan Pak Susastio padaku. Namun demikian apa pun yang aku lakukan, semua teman di kelasku mendukungku. Entah mereka mendukung hanya karena aku Anak angkat Pak Susastio. Atau memang dari pembawaanku. Mereka tidak tahu aku yang ceria, aku yang suka membuat ulah dan mengundang teman-temanku untuk tertawa itu sesungguhnya menyimpan beban yang hanya aku sendiri yang tahu. Mereka pikir berada di rumah mantan pejabat itu menyenangkan. Mereka salah. Aku memang diberi uang lebih, tapi bukan berarti aku bahagia, bukan berarti aku senang. Selain sekolahku sesungguhnya aku di sini hanya untuk satu hal yang selalu mengganggu tidurku. Kehangatan cinta keluarga yang tidak aku dapatkan dari keluargaku. Tapi yang aku harapkan sebaliknya. Dan aku mulai menertawakan diriku sendiri yang masih percaya bahwa cinta , kasih sayang itu masih ada. Diam- diam di sekolah aku mulai membuat sensasi. Aku menghimpun anak-anak yang tertindas dan yang tidak diberi uang saku lebih untuk menjadi bodyguardku, kemana-mana mereka ada di belakangku dan entah kenapa aku pun merasa aman berada di antara mereka. Dan uang saku yang diberikan Pak Susastio cukup mampu untuk mentraktir semua teman-temanku di kelas itu. Dan seperti aku yang setia pada Pak Susastio bapak angkatku, mereka pun setia padaku. Tapi bedanya aku tidak memperlakukan mereka semena-mena, dan tugas mereka hanya membuatku aman. Banyak teman-teman dari kelas lain jadi bingung bagaimana mungkin aku yang berperawakan kecil, bisa menundukkan anak-anak yang lebih besar dari aku. Aku mulai berpikir bagaimanapun uang cukup berkuasa. Dan di sekolah adalah tempatku lepas dari semua penderitaanku. Bahkan aku mulai berpikir kalau aku datang di sekolah bukan untuk belajar tapi untuk bersenang-senang dengan semua teman-temanku. Sepertinya ucapan Bu Susastio itu selalu terngiang-ngiang di telingaku. Bersenag-senanglah, nak. Nikmati hidupmu. Jangan sampai kau stress hanya karena Bapak dan Bu Susastio tidak segan-segan untuk memberikan uang untukku agar aku bisa menikmati hidupku. Bukan hanya Ibu angkatku. Pak Susastio pun sering melemparkan uang ke mukaku. Belum lagi mba Larasati dan mas Bima yang suka datang ke kamarku yang juga memberikan uang untukku. Tak pernah seumur hidupku aku merasa sekaya ini. Dan di sekolah semua orang memanggilku boss, yah, Bos kecil. Tapi aku tidak simpati dengan mereka yang memanggilku bos. Aku lebih simpati pada mereka teman-temanku yang kekurangan. Aku membantunya untuk membeli buku. Untuk membeli baju seragamnya yang sudah menguning. Karena aku pernah mengalami apa yang mereka alami. Aku pernah merasakan bagaimana susahnya kekurangan.


Komentar